Jumat, 24 Juni 2016

just story


Curhatan sang pengeluh

 

Seorang gadis cuek yang suka ceplas ceplos kalo bicara, tidak peduli apa kata orang di sekitar. Panggil saja dia arum, sejak kecil ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, yah tentu saja, karna ia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Ia tak biasa hidup susah, susah disini maksutnya kekurangan apa yang dibutuhkan.  Yang dia tau hanya apa yang dia ingin, sekali ia berucap ya harus ada ntah pada saat itu juga ataupun besoknya, yang jelas ia tak mau menunggu lama dengan apa  yang ia inginkan.

Tapi kehidupan ini berbalik dengan apa yang ia tahu pada saat itu, tak semua yang ia mau  itu, di iya kan pula oleh Allah, ia juga harus tahu bahwa mencapai sesuatu itu harus melalui proses, dan proses itu tak sebentar, terkadang proses yang lama akan menghasilkan pencapaian yang maksimal pula. Hari demi hari arum lewati dengan penuh kemudahan dan sering kali mengeluh dengan keadaan ketika tak sesuai dengan apa yang ia rencanakan. saat itu ia berusia 13 tahun. Berarti ia baru menduduki bangku SMP. Kebetulan sekolah yang ia jalani itu tak jauh dengan rumahnya, dan sekaligus pekerjaan kedua orangtuanya di sekolah itu pula, buka guru atau apalah, melainkan sebagai tukang sapu atau staff yang di suruh-suruh ya karena ayahnya tak sekolah tinnggi hanya lulusan SMA.

Mungkin itu pekerjaan yang layak untuk beliau tekuni selama ini, awal ayahnya bekerja pada saat arum berumur 7 tahun, dan ibunya bekerja disana sebagai pedagang makanan di salah satu kantin yang terdapatdi sekolah itu dari 3 kantin yang berada disana. Arum layaknya ABG labil yang baru beranjak menuju pubertas yang memiliki sifat tempramen bahkan terkadang sifat kekanakan nya masih melekat. Beberapa minggu menjalani sekolah di smp itu, arum harus melalukan kewajibannya sebagai anak yang berbakti yakni membantu orang tuanya. Membantu melayani pembeli dan berangkat kesekolah lebih awal, sebelum teman-teman yang lainnya berangkat. Karna sebelum masuk ke kelas arum terlebiih dulu membereskan kantin. Setelah bel masuk arum pun baru memasuki kelas, dan belajar dengan seksama, setelah bel istirahat tiba arum hhhsegera ke kantin ibunya untuk makan atau jajan sekaligus membantu ibunya, dan mlayani orang-orang yang membeli di kantinnya tersebut.

Mungkin pada awalnya arum biasa-biasa saja, tapi lambat laun arum malu, dan merasa terbebani, meskipun arum tau bahwa perasaan seperti itu tak boleh ia rasakan karena bagaimanapun itu pekerjaan halal, dan dengan hasil itu arum bisa tumbuh dengan baik dan belajar dengan baik pula, tapi apa daya sebagai seorang manusia perasaan semacam itu pasti di rasakan.

hari berganti minggu minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, mau tidak mau arum sudah berada di kelas sembilan. Selama bersekolah di SMP tersebut tak banyak guru yang mengetahui bahwa arum adalah anak dari ayahnya yang  bekerja di smp itu.  Pada saat arum membantu di kantin ada guru yang melihat dan bertanya “loh jadi ini anak ibu to ? “ ibuku menjawab “ iya buk, hehe” tau gitu tak kasi nilai besar buk buk J, tak perlu seperti itu buk, beri saja dia nilai yang layak untuk dia dapatkan.

Dari percakapan mereka dapat disimpulkan bahwasannya orang tua sangat di pandang oleh guru2 disana, tanpa melihat aku layaknya murid biasa L, semester kedua telah terlewati, ujian pun di depan mata.

Masa sulit ujian telah terlewati, pendaftaran masuk SMA pun di mulai. Lagi-lagi arnum mengeluarkan kesombongannya, ingin mendaftar sekolah tanpa minta campur tangan orang tuanya, ia merasa bahwa dirinya mampu.ia ajak teman2nya untuk mendaftar bersamanya. 2 cabang sekolah yang ia masuki. SMA dekat dengan rumahnya dan SMA yang cukup jauh dari rumahnya.

Namun beberapa waktu saat pengumuman lolos tidaknya, ternyata ia tidak goal dalam sekolah yang ia daftari sama sekali. Kedua sekolah yang ia inginkan menolaknya. Padahal pada saat itu ayahnya memberikan tawaran, bahwasanya ayahnya mendapatkan kebijakan dari kepala sekolah yang telah bernegosiasi dengan lurah setempat untuk memberikan  satu kursi untuk anak2 dari stakeholder dalam SMP yang memang satu desa dengan SMA tersebut.

Namun arum dengan sifat buruknya, menghapus harapan nya sendiri. Menolak tawaran ayahnya. ia tak mau terlihat sedih di depan orang-orang yang ia sayangi. Ia berkata bahwasannya semua udah takdir dari Allah swt, masih banyak sekolah lain dan semua sekolah sama aja. Meskipun dalam hatinya ia sangat menyesal bahkan menangis tersedu.

Dengan raut wajah yang biasa saja ia menaiki motor besama dengan ibunya untuk mendaftar di sekolah swasta yang berlebel muhammadiyah. Tepatnya di jalan KH. Ahmad dahlan No. 1 metro pusat. Atau biasa disebut muha komplek, kenapa di sebut dengan komplek ? karena disana ada banyak tingkatan sekolah guys mulai dari TK hingga SMA.

Tanpa panjang lebar arum masuk sekolah itu, yah namanya bukan negri jadi, cara masuknya pun mudah. Jadwal sudah tertera pada hari senin ia memasuki kawasan sekolah untuk pertama kalinya untuk mengikuti fortasi ( MOS ), sedikit ragu dan tak yakin akan sekolah yang berada di depan pandangannya itu bagian SD nya waaaw keren. Bahkan bisa dibilang SD terbaik di metro, namun SMA nya. Hmm tak banyak orag yang tau mengenai keberadaan sekolah ini. Ngenes ^^

Namun arum tak mau memikirkan yang tak penting, yang ia butuhkan yakni sekolah. Setelah beberapa Langkah kakinya sampai di depan kelas tepatnya di gedung muha lantai 2, tanpa ia sadari ternyata banyak sekali teman dari satu SMP nya yang juga masuk SMA yang terbilang ga terkenal ini. Yah sedikit merasa lega hati si arnum karena ia tak sendiri.

*** 3 hari fortasi telah usai ia lalui, tindak lanjut dari fortasi membawa dampak baik terhadap murid baru termasuk arnum, disiplin, sopan , agamis, dan masih banyak lagi. Aadapun murid yng tidak menerima dampak baiknya, hanya beberapa karena tak semua sifat mereka bisa terkupas dari super bandel menjadi super alim.

Pada saat itulah waktunya kakak2 panitia fortasi memperkenalkan organisasi yang ada dalam sekolah ini. Di antara nya di bagian yang berperan penting dalam kemajuan sekolah ini yakni IPM ( ikatan pelajar muhammadiyah). Karena arnum merasakan dampak dari fortasi ia merasa bahwa organisasi mungkin menarik, ia pun mengambil blangko pendaftaran untuk bisa ikut organisasi tersebut. Karena disitu juga di sebutkan keunggulan2 dalam berorganisasi yang menambah ghiroh dalam berIPM lebih kuat. Arum memiliki teman yang cukup banyak dalam mendaftar IPM yang nantinya akan berteman dengannya baik dalam berakademisi di kelas maupun luar kelas. Yang ia temua ada sekitar 40 orang yang memiliki minat dalam berorganisasi.

Namuuun, menjadi seorang kader ( penerus ) IPM tidaklah cukup mudah hanya asal orang yang masuk dan hanya diam bahkan bermain-main saja. Itu semua butuh perjuangan, ada tahap-tahap yang harus dilewati : salah satunya PKDTM 1 (pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1), pelatihan yang harus di ikuti oleh calon kader sebelum mengemban amanah-amanah yang harus ia pertanggungjwabkan nantinya, pelatihan ini dilakukan selama 3 hari 2 malam, rangkaian kegiatannya diantaranya : mengikuti materi-materi yang telah di siapkan untuk di ikuti, makan solat mandi dan aktivitas lainnya yang harus dilakukan oleh individu dengan mandiri, disitu juga di ajarkan bagaimana disiplin pada waktu, pada ajaran islam, dan berbagai hal kecil hingga hal besar yang harus di benahi yang tanpa disadari pernah dilakukan.

Selama pelatihan berlangsung Arum merasa tegang, senang, lelah campur aduk rasanya, betapa tidak ? selama beberapa jam berturut-turut  peserta PKDTM di cekok i materi dengan duduk di kursi tanpa meja, bisa di bayangkan kan ? dan ketika makan harus makan dengan makanan seadanya tidak perduli apakah kita doyan / menyukai makanan tersebut atau tidak, ketika jalan sendal tidak boleh di seret dll. Acara terakhir yang paling ekstreme yaitu muhasabah, dimana pada suatu malam yang hening para peserta diberikan renungan mengenai hal-hal yang membuat mereka mendapatkan dosa, seperti membantah kedua orangtua, dan lainnya. Dan tidak hanya satu dari mereka meneteskan air mata bahkan ada pula yang sampai menangis tersedu-sedu.

Keesokan harinya rangkaian acara yang terakhir sebagai penutup, yaitu olahraga senam di lapangan kemudian dilanjutkan lari mengelilingi komplek.

Selesai sudah semua rangkaian kegiatan PKDTM. Saatnya para peserta pulang kerumah masing-masing, ada yang menunggu jemputan, ada yang jalan kaki ada pula yang naik sepeda.

To be continue