Curhatan sang pengeluh
Seorang gadis cuek yang suka ceplas ceplos kalo
bicara, tidak peduli apa kata orang di sekitar. Panggil saja dia arum, sejak
kecil ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, yah tentu saja, karna ia
adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Ia tak biasa hidup susah, susah disini maksutnya
kekurangan apa yang dibutuhkan. Yang dia
tau hanya apa yang dia ingin, sekali ia berucap ya harus ada ntah pada saat itu
juga ataupun besoknya, yang jelas ia tak mau menunggu lama dengan apa yang ia inginkan.
Tapi kehidupan ini berbalik dengan apa yang ia
tahu pada saat itu, tak semua yang ia mau itu, di iya kan pula oleh Allah, ia juga harus
tahu bahwa mencapai sesuatu itu harus melalui proses, dan proses itu tak
sebentar, terkadang proses yang lama akan menghasilkan pencapaian yang maksimal
pula. Hari demi hari arum lewati dengan penuh kemudahan dan sering kali
mengeluh dengan keadaan ketika tak sesuai dengan apa yang ia rencanakan. saat
itu ia berusia 13 tahun. Berarti ia baru menduduki bangku SMP. Kebetulan
sekolah yang ia jalani itu tak jauh dengan rumahnya, dan sekaligus pekerjaan
kedua orangtuanya di sekolah itu pula, buka guru atau apalah, melainkan sebagai
tukang sapu atau staff yang di suruh-suruh ya karena ayahnya tak sekolah tinnggi
hanya lulusan SMA.
Mungkin itu pekerjaan yang layak untuk beliau
tekuni selama ini, awal ayahnya bekerja pada saat arum berumur 7 tahun, dan
ibunya bekerja disana sebagai pedagang makanan di salah satu kantin yang
terdapatdi sekolah itu dari 3 kantin yang berada disana. Arum layaknya ABG
labil yang baru beranjak menuju pubertas yang memiliki sifat tempramen bahkan
terkadang sifat kekanakan nya masih melekat. Beberapa minggu menjalani sekolah
di smp itu, arum harus melalukan kewajibannya sebagai anak yang berbakti yakni
membantu orang tuanya. Membantu melayani pembeli dan berangkat kesekolah lebih
awal, sebelum teman-teman yang lainnya berangkat. Karna sebelum masuk ke kelas
arum terlebiih dulu membereskan kantin. Setelah bel masuk arum pun baru
memasuki kelas, dan belajar dengan seksama, setelah bel istirahat tiba arum
hhhsegera ke kantin ibunya untuk makan atau jajan sekaligus membantu ibunya,
dan mlayani orang-orang yang membeli di kantinnya tersebut.
Mungkin pada awalnya arum biasa-biasa saja,
tapi lambat laun arum malu, dan merasa terbebani, meskipun arum tau bahwa
perasaan seperti itu tak boleh ia rasakan karena bagaimanapun itu pekerjaan
halal, dan dengan hasil itu arum bisa tumbuh dengan baik dan belajar dengan
baik pula, tapi apa daya sebagai seorang manusia perasaan semacam itu pasti di
rasakan.
hari berganti minggu minggu berganti bulan dan
bulan berganti tahun, mau tidak mau arum sudah berada di kelas sembilan. Selama
bersekolah di SMP tersebut tak banyak guru yang mengetahui bahwa arum adalah
anak dari ayahnya yang bekerja di smp
itu. Pada saat arum membantu di kantin
ada guru yang melihat dan bertanya “loh jadi ini anak ibu to ? “ ibuku menjawab
“ iya buk, hehe” tau gitu tak kasi nilai besar buk buk J, tak
perlu seperti itu buk, beri saja dia nilai yang layak untuk dia dapatkan.
Dari percakapan mereka dapat disimpulkan
bahwasannya orang tua sangat di pandang oleh guru2 disana, tanpa melihat aku
layaknya murid biasa L,
semester kedua telah terlewati, ujian pun di depan mata.
Masa sulit ujian telah terlewati, pendaftaran
masuk SMA pun di mulai. Lagi-lagi arnum mengeluarkan kesombongannya, ingin
mendaftar sekolah tanpa minta campur tangan orang tuanya, ia merasa bahwa
dirinya mampu.ia ajak teman2nya untuk mendaftar bersamanya. 2 cabang sekolah
yang ia masuki. SMA dekat dengan rumahnya dan SMA yang cukup jauh dari
rumahnya.
Namun beberapa waktu saat pengumuman lolos
tidaknya, ternyata ia tidak goal dalam sekolah yang ia daftari sama sekali.
Kedua sekolah yang ia inginkan menolaknya. Padahal pada saat itu ayahnya
memberikan tawaran, bahwasanya ayahnya mendapatkan kebijakan dari kepala
sekolah yang telah bernegosiasi dengan lurah setempat untuk memberikan satu kursi untuk anak2 dari stakeholder dalam
SMP yang memang satu desa dengan SMA tersebut.
Namun arum dengan sifat buruknya, menghapus
harapan nya sendiri. Menolak tawaran ayahnya. ia tak mau terlihat sedih di
depan orang-orang yang ia sayangi. Ia berkata bahwasannya semua udah takdir
dari Allah swt, masih banyak sekolah lain dan semua sekolah sama aja. Meskipun
dalam hatinya ia sangat menyesal bahkan menangis tersedu.
Dengan raut wajah yang biasa saja ia menaiki
motor besama dengan ibunya untuk mendaftar di sekolah swasta yang berlebel
muhammadiyah. Tepatnya di jalan KH. Ahmad dahlan No. 1 metro pusat. Atau biasa
disebut muha komplek, kenapa di sebut dengan komplek ? karena disana ada banyak
tingkatan sekolah guys mulai dari TK hingga SMA.
Tanpa panjang lebar arum masuk sekolah itu, yah
namanya bukan negri jadi, cara masuknya pun mudah. Jadwal sudah tertera pada
hari senin ia memasuki kawasan sekolah untuk pertama kalinya untuk mengikuti
fortasi ( MOS ), sedikit ragu dan tak yakin akan sekolah yang berada di depan
pandangannya itu bagian SD nya waaaw keren. Bahkan bisa dibilang SD terbaik di
metro, namun SMA nya. Hmm tak banyak orag yang tau mengenai keberadaan sekolah
ini. Ngenes ^^
Namun arum tak mau memikirkan yang tak penting,
yang ia butuhkan yakni sekolah. Setelah beberapa Langkah kakinya sampai di
depan kelas tepatnya di gedung muha lantai 2, tanpa ia sadari ternyata banyak
sekali teman dari satu SMP nya yang juga masuk SMA yang terbilang ga terkenal
ini. Yah sedikit merasa lega hati si arnum karena ia tak sendiri.
*** 3 hari fortasi telah usai ia lalui, tindak
lanjut dari fortasi membawa dampak baik terhadap murid baru termasuk arnum,
disiplin, sopan , agamis, dan masih banyak lagi. Aadapun murid yng tidak
menerima dampak baiknya, hanya beberapa karena tak semua sifat mereka bisa
terkupas dari super bandel menjadi super alim.
Pada saat itulah waktunya kakak2 panitia
fortasi memperkenalkan organisasi yang ada dalam sekolah ini. Di antara nya di
bagian yang berperan penting dalam kemajuan sekolah ini yakni IPM ( ikatan
pelajar muhammadiyah). Karena arnum merasakan dampak dari fortasi ia merasa
bahwa organisasi mungkin menarik, ia pun mengambil blangko pendaftaran untuk
bisa ikut organisasi tersebut. Karena disitu juga di sebutkan keunggulan2 dalam
berorganisasi yang menambah ghiroh dalam berIPM lebih kuat. Arum memiliki teman
yang cukup banyak dalam mendaftar IPM yang nantinya akan berteman dengannya
baik dalam berakademisi di kelas maupun luar kelas. Yang ia temua ada sekitar
40 orang yang memiliki minat dalam berorganisasi.
Namuuun, menjadi seorang kader ( penerus ) IPM
tidaklah cukup mudah hanya asal orang yang masuk dan hanya diam bahkan
bermain-main saja. Itu semua butuh perjuangan, ada tahap-tahap yang harus
dilewati : salah satunya PKDTM 1 (pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1),
pelatihan yang harus di ikuti oleh calon kader sebelum mengemban amanah-amanah
yang harus ia pertanggungjwabkan nantinya, pelatihan ini dilakukan selama 3
hari 2 malam, rangkaian kegiatannya diantaranya : mengikuti materi-materi yang
telah di siapkan untuk di ikuti, makan solat mandi dan aktivitas lainnya yang
harus dilakukan oleh individu dengan mandiri, disitu juga di ajarkan bagaimana
disiplin pada waktu, pada ajaran islam, dan berbagai hal kecil hingga hal besar
yang harus di benahi yang tanpa disadari pernah dilakukan.
Selama pelatihan berlangsung Arum merasa
tegang, senang, lelah campur aduk rasanya, betapa tidak ? selama beberapa jam
berturut-turut peserta PKDTM di cekok i
materi dengan duduk di kursi tanpa meja, bisa di bayangkan kan ? dan ketika
makan harus makan dengan makanan seadanya tidak perduli apakah kita doyan /
menyukai makanan tersebut atau tidak, ketika jalan sendal tidak boleh di seret
dll. Acara terakhir yang paling ekstreme yaitu muhasabah, dimana pada suatu
malam yang hening para peserta diberikan renungan mengenai hal-hal yang membuat
mereka mendapatkan dosa, seperti membantah kedua orangtua, dan lainnya. Dan
tidak hanya satu dari mereka meneteskan air mata bahkan ada pula yang sampai
menangis tersedu-sedu.
Keesokan harinya rangkaian acara yang terakhir
sebagai penutup, yaitu olahraga senam di lapangan kemudian dilanjutkan lari
mengelilingi komplek.
Selesai sudah semua rangkaian kegiatan PKDTM.
Saatnya para peserta pulang kerumah masing-masing, ada yang menunggu jemputan,
ada yang jalan kaki ada pula yang naik sepeda.
To be continue
0 komentar:
Posting Komentar